Lompat ke konten
Home » Blog » Sejarah » Sejarah Singkat Kerajaan Hindu Tarumanegara, Mataram Kuno, Kediri dan Singosari

Sejarah Singkat Kerajaan Hindu Tarumanegara, Mataram Kuno, Kediri dan Singosari

Candi Singosari Kerajaan Hindu
Candi Singosari

Sejarah Singkat Kerajaan Hindu Tarumanegara, Mataram Kuno, Kediri dan Singosari – Agama Hindu mulai masuk ke Nusantara akibat hubungan dagang dengan negara India. Setelah masuknya pengaruh Hindu di Indonesia, terbentuklah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu, salah satunya adalah Kerajaan Kutai.

Selain Kutai, berikut ini adalah beberapa kerajaan yang bercorak Hindu lainnya di Indonesia.

Kerajaan Tarumanegara

Tarumanegara merupakan kerajaan yang bercorak Hindu tertua kedua di Indonesia. Letak kerajaan ini kemungkinan berada di Lembah Citarum, Jawa Barat.

Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti Ciaruteun di Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini menjelaskan bahwa Raja Tarumanegara bernama Purnawarman.

Purnawarman dikenal oleh rakyatnya sebagai raja yang gagah berani, bijaksana, dan tegar dalam menghadapi musuh. Sepeninggal Raja Purnawarman tidak diketahui lagi perkembangan selanjutnya.

Beberapa hal yang dilakukan oleh Raja Purnawarman untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya antara lain sebagai berikut:

  • Membangun Sungai Gomati sepanjang 12 km untuk pengairan dan mencegah banjir.
  • Mendukung usaha pertanian padi yang dilakukan rakyatnya.
  • Memberi hadiah 1.000 ekor lembu kepada para brahmana sebagai tanda keberhasilan Raja Purnawarman membangun sungai-sungai.

Kerajaan Mataram Kuno

Di Jawa Tengah pada abad ke-8 berdiri sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Medang atau yang terkenal sebagai Mataram Kuno atau Mataram Hindu.

Berdasarkan prasasti peninggalan sejarah, mula-mula Kerajaan Mataram diperintah oleh Raja Sanna. Raja Sanna kemudian digantikan oleh keponakannya, Sanjaya.

Sanjaya memerintah dengan bijaksana sehingga rakyat hidup makmur, aman, dan tenteram. HaI ini sesuai dengan Prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan emas dan padi.

Pada masa pemerintahan Sanjaya, Mataram beragama Hindu.

Setelah Sanjaya, Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Panangkaran atau Syailendra. Panangkaran menganut agama Buddha.

Pada masa ini agama Hindu dan Buddha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno.

Penganut agama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, sedangkan penganut agama Buddha berada di bagian selatan.

Sepeninggalan Panangkaran, Kerajaan Mataram Kuno terpecah dua, yaitu Mataram Hindu dan Mataram Buddha.

Perpecahan tersebut tidak berlangsung lama. Di bawah kepemimpinan Rakai Pikatan, Mataram dapat kembali bersatu. Wilayah Mataram pun semakin berkembang luas meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tokoh yang terkenal pada masa Kerajaan Mataram Kuno adalah Rakai Watukura Dyah Balitung.

Di bawah kepemimpinan Balitung, Kerajaan Mataram Kuno mencapai puncak kejayaannya dengan menaklukkan wilayah-wilayah di sebelah timur Mataram Kuno.

Pada masa itu, rakyat yang beragama Hindu dan Buddha tetap saling menghargai. Candi-candi juga banyak didirikan secara gotong royong oleh masyarakat yang berbeda agama itu.

Baca Juga: Kerajaan Sriwijaya di Bawah Kepemimpinan Raja Balaputradewa

Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri merupakan lanjutan dari Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga (1019-1042).

Di akhir masa pemerintahannya, Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua untuk kedua anaknya, yaitu Janggala yang beribukota Kahuripan dan Panjalu yang beribukota Daha.

Janggala kemudian dikenal menjadi Kahuripan dan Panjalu menjadi Kediri.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Kediri tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Janggala sernakin tenggelam.

Kerajaan Kediri terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur.

Kerajaan Kediri mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Raja Sri Jayabhaya.

Pada masa itu wilayah kerajaan Kediri meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Salah satu peninggalan sejarah yang terkenal dari Kerajaan Kediri adalah Candi Panataran.

Baca Juga: Nama 34 Provinsi dan Suku Bangsa di Indonesia

Kerajaan Singosari

Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222. Setelah Kerajaan Kediri hancur, Raja Singosari yang pertama adalah Ken Arok.

Sebelumnya Ken Arok memberontak pada pemerintahan Kerajaan Kediri di wilayah Tumapel.

Tunggul Ametung sebagai akuwu atau bupati Tumapel berhasil dibunuh oleh Ken Arok. Kemudian, Ken Arok menikahi istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes dan mendirikan Kerajaan Singosari untuk menghancurkan Kediri.

Kerajaan Kediri saat itu dipimpin oleh Raja Kertajaya.

Kerajaan Singosari mengalami kejayaan di bawah pimpinan Raja Kertanegara. Kertanegara terkenal sebagai raja yang memiliki kecakapan dalam memimpin.

Rakyat pada masa kepemimpinan Kertanegara hidup aman dan sejahtera. Kertanegara juga bercita-cita ingin menyatukan seluruh Nusantara di bawah naungan Singosari, meskipun belum tercapai dengan sempurna.

Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singosari antara lain berupa prasasti, candi, dan patung.

Candi peninggalan Kerajaan Singosari antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singosari.

Baca Juga: Mengenal Situs Trowulan Warisan Kerajaan Majapahit